'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Template Penjelasan Kader Terbaik TBC 'Aisyiyah Dari SSR PDA Kota Medan
14 Januari 2020 22:04 WIB | dibaca 129

Di usia lanjut lumrahnya setiap manusia merasakan nikmat santai dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Bagi Siti Maria, Kader TBC ‘Aisyiyah SSR Medan kesempurnaan kebahagiaan itu terletak pada kepedulian terhadap sesama. Di usianya yang sudah 67 tahun, ia masih aktif gerilyadari rumah ke rumah di wilayah kerjanya menemukan kasus tuberkulosis untuk diajak berobat.

Siti Maria terdaftar sebagai kader TBC ‘Aisyiyah sejak 2009 di awal program TB Care ‘Aisyiyah memperluas jaringan kerjanya di Sumatera Utara. Warga ‘Aisyiyah yang sejak 2015 menjadi Ketua Cabang ‘Aisyiyah Medan Timur ini telah berhasil mendampingi ratusan pasien hingga sembuh dan setidaknya lebih dari seribu orang mengetahui informasi TBC melalui penyuluhan, sosialisasi, dan lainnya yang ia lakukan selama 10 tahun terakhir. Siti Maria juga berhasil membina dan membimbing kader junior lainnya sehingga ia disegani dan dianggap sebagai motivator dan kakak yang membuat kader lain semangat memberantas TB di wilayah kerja mereka.

 

Seperti yang dikatakan oleh Tuti, kader Medan Timur yang juga menjadi mitra Siti Maria sejak 6 tahun yang lalu. Ia mengatakan bahwa Siti Maria adalah sosok ibu yang memotivasi kami agar yakin bahwa yang dilakukan saat ini adalah ibadah. Ia menjelaskan bagaimana kader bekerja dengan baik dan membuat strategi yang baik agar kita juga tidak menjadi korban tbc. “Bu Maria walau sudah tua, tapi langkahnya masih jauh pergi kemana-mana menjangkau pasien untuk memotivasi mereka meminum obat.”

Siti Maria punya beragam cara untuk menjelaskan kepada masyarakat terkait bahaya TBC. Selain di pengajian ‘Aisyiyah, ia masuk ke perwiritan-perwiritan majelis ta’lim, pertemuan kelurahan, pertemuan pkk, dan membuat pertemuan dengan wali kelas TK ‘Aisyiyah dan juga PAUD lainnya yang bukan ‘Aisyiyah. Ada juga hal yang menarik, ia juga sering memberi informasi kepada tetangga-tetangganya yang mayoritas beragama nasrani. Ia tinggal di dekat gereja dan sering menyampaikan informasi tentang bahaya TBC kepada warga sekitaran tersebut. Di puskesmaspun ia aktif membantu petugas TB mengantarkan obat kepada pasien, memberi sosialisasi, dan kegiatan lainnya untuk menunjang keberhasilan pencapaian kesembuhan seperti sosialiasi HIV, Diabetes, dan lain sebagainya.

M. Yulzar, petugas TB Puskesmas Glugur Darat mengatakan bahwa Siti Maria adalah sosok orang tua penuh dedikasi. Ia mengatakan sangat respek dengan kehadiran Siti Maria di Puskesmas Glugur Darat. “Puskesmas sangat terbantu dengan adanya kader-kader TBC 'Aisyiyah khususnya Ibu Siti Maria yang sejak 2009 sudah bersama kami berjuang. Banyak yang sudah kami hadapi untuk melayani pasien dan Ibu Maria sebagai konselor kami sehingga pasien mau berobat dan datang ke puskesmas melakukan kontrol dan periksa dahak.

Siti Maria tidak punya kendaraan pribadi dalam menjangkau pasien atau pencarian suspek. Wilayah kerja beliau juga luas dan daerah kerjanya kompleks. Ia harus naik angkutan umum dan kemudian berjalan beberapa kilo untuk sampai ke puskesmas. Untuk menjangkau pasien atau menemukan kasus, ia menyewa becak motor seharian menemaninya. Uang yang harus ia keluarkan berkisar 50-100ribu perhari. Tentu banyak fakta menarik yang ia rasakan. Strategi yang dilakukannya dalam menemukan kasuspun beragam seperti membujuk dengan memberikan ongkos kepada masyarakat sampai ke puskesmas. Memberi shock therapy agar psikis masyarakat menerima apa yang disampaikannya. Dan ia juga sering memberi pasien makanan tambahan seperti bubur, gula, beras, dan lain sebagainya kepada pasien. Dari itu semua, ia yakin bahwa kesehatan yang diberikannya sampai sekarang adalah salah satunya dengan kegiatan yang ia lakukan sebagai kader. Keikhlasan, tanpa pamrih, dan rela berbagi diterapkannya untuk memberantas TBC dari wilayah kerjanya.

Maria juga bijak dalam mengelola waktu. Ia akan prioritaskan mana yang benar-benar membutuhkannya ketika ada jadwal yang bentrok antara keaktifannya sebagai kader TBC dan tanggung jawabnya sebagai Ketua Cabang. Namun, ia dapat mengelolanya dengan baik. Itulah mengapa ia terus menjadi pembimbing yang baik bagi kader-kader juniornya agar dapat membantunya sebentar saat tugasnya sebagai Ketua Cabang tidak bisa digantikan. Begitu juga sebaliknya, ia akan memprioritaskan berjumpa dengan pasien yang membutuhkannya dan menunjuk perwakilan cabang agar hadir dalam kegiatan ‘Aisyiyah.

Siti Maria memiliki 4 anak dan 9 cucu. Keluarganya mendukung apa yang dilakukan oleh Maria. Karena Maria membuktikannya dengan pencapaian-pencapaian keberhasilan dalam mendampingi pasien dan menjadikan kegagalan mendampingi pasien sebagai evaluasi agar tidak terjadi kedepannya. Beliau layak dijadikan kader teladan karena loyalitasnya (10 tahun berkiprah), usia senja namun tetap berempati terhadap sesama, ikhlas memberi walau nyatanya reward yang didapat tidak sesuai dengan yang ia keluarkan. Dan ia merupakan contoh bagi warga ‘Aisyiyah bahwa ia adalah kader yang beramal dan berdarma bakti untuk menciptakan masyarakat bebas TBC di Kota Medan.(SR TB Care 'Aisyiyah Sumu)

 

 

 

 

 

Shared Post: